Perempuan sebagai Penjaga Bumi: Kiprah Komunitas Aisyiyah dalam Gerakan Islam Hijau

Karena menjaga alam bukan hanya tugas negara atau ulama, melainkan kewajiban kita semua, laki-laki dan perempuan, sebagai hamba yang diberi amanah.

Admin
5 Min Read
Ilustrasi Dok/Grok Ai

Oleh: Feby Ferdian

Pernahkah memperhatikan bagaimana ibu-ibu di sekitar masjid atau pengajian rutin membawa tas kain sendiri, memilah sampah rumah tangga, atau bahkan mengajak tetangga menanam pohon di pekarangan?

Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya aktivitas kecil sehari-hari. Namun jika kita cermati lebih dalam, langkah-langkah sederhana itu merupakan bagian dari gerakan besar yang digelorakan perempuan Muslim Indonesia,  khususnya melalui organisasi ‘Aisyiyah.

Islam menempatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi (QS. Al-Baqarah: 30). Amanah menjaga alam bukan hanya milik laki-laki, melainkan tanggung jawab seluruh umat, termasuk perempuan.

Dalam konteks krisis iklim dan kerusakan lingkungan yang semakin nyata, komunitas perempuan ‘Aisyiyah menunjukkan bahwa kesalehan tidak berhenti di ruang ibadah. Mereka menghadirkan “kesalehan ekologis,” menggabungkan keimanan dengan aksi nyata merawat bumi.

Membaca Gerakan Green Aisyiyah

‘Aisyiyah, organisasi otonom perempuan Muhammadiyah, telah lama bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan.

Dalam satu dekade terakhir, mereka semakin tegas menempatkan isu lingkungan sebagai bagian integral dari dakwah.

Melalui Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB), ‘Aisyiyah mengembangkan berbagai program yang berakar dari rumah tangga hingga komunitas. Beberapa langkah konkret yang mereka lakukan antara lain:

  • Ngaji Lingkungan — pengajian yang tidak hanya membahas ayat-ayat tentang keimanan, tetapi juga tentang menjaga kebersihan, mengurangi sampah, dan menghemat sumber daya sebagai bentuk ibadah.
  • Pengelolaan sampah rumah tangga — banyak ranting dan cabang ‘Aisyiyah menginisiasi bank sampah, membuat kompos, serta memproduksi eco-enzyme dari limbah organik dapur.
  • Diet plastik dan pasar bebas plastik — aksi di pasar tradisional dengan membagikan tas guna ulang, mengajak pedagang dan pembeli mengurangi plastik sekali pakai, bahkan menggelar Iduladha tanpa plastik di sejumlah wilayah.
  • Islamic Green School — pendidikan lingkungan sejak dini di TK dan sekolah ‘Aisyiyah, menanamkan nilai thaharah (kesucian) dan tanggung jawab sebagai khalifah kepada anak-anak.
  • Penanaman pohon dengan sistem “pola asuh” — bukan sekadar menanam, tetapi memastikan pohon benar-benar hidup dan dirawat.

Gerakan ini sering disebut Green Aisyiyah. Ia lahir dari kesadaran bahwa perempuan adalah pihak yang paling dekat dengan pengelolaan sumber daya sehari-hari di rumah tangga, sekaligus kelompok yang paling rentan terdampak kerusakan lingkungan dan bencana.

Landasan Syariat: Perempuan sebagai Penjaga Amanah

Al-Qur’an menegaskan larangan membuat kerusakan di muka bumi (fasad). QS. Al-A’raf: 56 memperingatkan, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya…” Sementara QS. Ar-Rum: 41 menyebutkan bahwa kerusakan di darat dan di laut muncul karena perbuatan tangan manusia.

Dalam perspektif Islam, menjaga lingkungan adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar. Fatwa MUI tentang pengelolaan sampah (Nomor 41 Tahun 2014) menegaskan bahwa membuang sampah sembarangan hukumnya haram, sedangkan mengelola sampah demi kemaslahatan adalah kewajiban.

Gerakan ‘Aisyiyah menerjemahkan fatwa tersebut ke dalam praktik kolektif perempuan, dari dapur, ke pengajian, hingga ke pasar dan sekolah.

Hadis tentang menanam pohon meskipun kiamat sudah dekat juga menjadi spirit yang sering disampaikan dalam pengajian lingkungan ‘Aisyiyah. Menanam dan merawat adalah amal yang tidak boleh ditunda.

Saatnya Ikut Bergerak

Gerakan komunitas perempuan seperti ‘Aisyiyah membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Mereka tidak menunggu kebijakan besar. Mereka memulai dari rumah, dari majelis taklim, dari sekolah anak-anak mereka.

Maka, sebagai umat yang mengaku beriman, kita bisa meniru spirit yang sama:

  1. Mulai memilah sampah di rumah tangga sendiri.
  2. Kurangi plastik sekali pakai dalam aktivitas sehari-hari.
  3. Dukung atau ikut serta dalam program bank sampah dan penghijauan di lingkungan masjid atau komunitas.
  4. Ajarkan anak-anak sejak dini bahwa menjaga kebersihan dan alam adalah bagian dari iman.

Selembar tas kain yang dibawa ibu-ibu ‘Aisyiyah ke pasar, seember kompos yang dibuat dari sisa dapur, atau sebatang pohon yang mereka rawat, bukan sekadar aksi lingkungan. Itu adalah wujud nyata dari tanggung jawab sebagai khalifah. Itu adalah dakwah bil-hal,  dakwah melalui perbuatan.

Mari jadikan setiap rumah, setiap pengajian, dan setiap komunitas sebagai ruang untuk merawat bumi. Karena menjaga alam bukan hanya tugas negara atau ulama, melainkan kewajiban kita semua, laki-laki dan perempuan, sebagai hamba yang diberi amanah.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *