Oleh: Admin
Islam Hijau – Di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, nama Megamendung selama ini identik dengan destinasi wisata yang sejuk. Namun di balik itu, ada kisah transformasi yang lebih dalam. Kawasan yang sempat menjadi lahan kritis dan sempat diliputi konflik agraria, kini berubah menjadi contoh ekowisata yang menggabungkan pemulihan lingkungan, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Salah satu inisiatif yang paling menonjol adalah EIGER Nature. Menurut liputan media pada akhir September hingga awal Oktober 2026, kawasan ini dikembangkan dengan pendekatan restorasi dan konservasi. Sejak 2021, program penghijauan di area yang berlokasi di kawasan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2 telah menanam lebih dari 120.000 pohon dan perdu, serta lebih dari 8 juta tanaman semak dan penutup tanah.
Selain penanaman, pengelola juga membangun infrastruktur pengendali air limpasan berupa 5 kolam retensi dan 205 sumur resapan. Langkah ini bertujuan mengurangi risiko erosi dan menjaga kestabilan hidrologi kawasan.
Model serupa sebelumnya sudah diterapkan di Dusun Bambu, Kabupaten Bandung Barat. Kawasan seluas sekitar 35 hektare yang dulu gersang dan rawan longsor kini berubah menjadi ruang hijau berbasis ekowisata. Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat, saat mengunjungi Dusun Bambu pada 29 September 2026, menegaskan bahwa ekowisata harus berjalan seiring dengan upaya pemulihan lingkungan.
“Pemerintah sangat serius mendorong ecotourism karena itu adalah kegiatan ekonomi yang sekaligus bisa memuliakan lingkungan,” ujar Menteri Jumhur dalam keterangan yang dilansir sejumlah media.
Chairman EIGER Nature, Ronny Lukito, menjelaskan bahwa pengembangan di Megamendung merupakan kelanjutan dari gagasan yang sama. Ia menekankan integrasi antara restorasi alam, edukasi lingkungan, dan keterlibatan masyarakat lokal. Hingga saat ini, EIGER Nature telah melibatkan ratusan tenaga kerja, termasuk warga setempat, dan berpotensi menyerap lebih banyak lagi ketika beroperasi penuh.
Berita-berita tersebut menunjukkan pergeseran cara pandang: wisata alam tidak lagi sekadar menjual keindahan, melainkan menjadi sarana memulihkan lahan yang rusak, membuka lapangan kerja, dan menumbuhkan kesadaran ekologis pengunjung.
Dalam perspektif Islam, model seperti ini sejalan dengan amanah sebagai khalifah di muka bumi. Menjaga dan menghidupkan kembali lahan yang sempat rusak adalah bagian dari tanggung jawab menjaga ciptaan Allah. Ketika destinasi wisata tidak hanya mendatangkan rezeki, tetapi juga meninggalkan bumi dalam kondisi yang lebih baik, maka perjalanan wisata tersebut mengandung nilai ibadah yang lebih utuh.
EIGER Nature di Megamendung menjadi salah satu contoh nyata bahwa green tourism bukan sekadar label. Ia bisa menjadi jalan untuk mengubah lahan kritis menjadi ruang yang hidup kembali, bagi alam, bagi masyarakat, dan bagi generasi yang akan datang.
