Oleh: Ariyanto
Islam Hijau – “Enak di sini. Udaranya masih segar.”
Seorang warga mengusap keringat setelah menyelesaikan satu putaran jogging track di kompleks Masjid KH Robbach Maksum Islamic Centre, Balongpanggang, Gresik.
Matahari baru saja muncul dari balik hamparan sawah. Cahaya keemasan perlahan menyentuh lintasan, pepohonan, dan atap masjid.
“Kalau pagi begini, rasanya malas pulang,” katanya sambil tersenyum.
Jogging track itu berada di tengah lanskap persawahan. Udara pagi masih bersih dan belum banyak tercampur asap kendaraan. Embun menempel di rerumputan. Di kejauhan, petani mulai turun ke sawah. Sebagian mengolah tanah, sebagian lainnya merawat tanaman.
Beberapa warga berjalan santai. Yang lain berlari kecil. Ada yang datang untuk berolahraga, ada pula yang sekadar menikmati matahari terbit dan udara pagi.
“Di sini bukan cuma enak buat olahraga. Pemandangannya juga bagus,” ujar seorang pengunjung. “Bisa lihat sawah, petani, sama sunrise. Pikiran jadi lebih tenang.”
Langkah kaki terus bergerak menyusuri lintasan. Sesekali terdengar sapaan antarwarga. Di luar lintasan, kehidupan pedesaan berjalan seperti biasa. Petani bekerja, burung-burung melintas, dan matahari perlahan meninggi.
Suasana seperti ini bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Kebersihan lingkungan ikut menentukan kualitas ruang hidup. Sampah yang dibuang sembarangan, pembakaran sampah, atau polusi kendaraan dapat mengubah udara segar menjadi udara yang tidak sehat.
“Makanya harus sama-sama menjaga kebersihan,” kata seorang warga. “Jangan buang sampah sembarangan. Kalau lingkungannya bersih, udaranya juga tetap segar. Tempat seperti ini harus dipertahankan.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi maknanya jauh lebih panjang daripada satu putaran jogging. Ruang terbuka membutuhkan kepedulian. Sawah membutuhkan perlindungan. Udara bersih membutuhkan lingkungan yang tidak terus-menerus dibebani sampah dan polusi.
Sebab olahraga bukan hanya perkara menggerakkan tubuh. Ia juga tentang memastikan tempat tubuh itu bernapas tetap sehat.
Matahari semakin tinggi. Para petani masih bekerja di sawah. Satu per satu warga meninggalkan jogging track.
Masjid pun semestinya tidak berhenti sebagai tempat salat. Ia dapat menjadi pusat peradaban—tempat masyarakat bergerak bersama, bukan hanya untuk membangun kesalehan personal, tetapi juga merawat kehidupan di sekitarnya. Dari masjid, kesadaran menjaga kebersihan bisa digerakkan; kebiasaan tidak membuang sampah sembarangan bisa dibangun; kualitas udara dan ruang hijau bisa dijaga; sawah dan lingkungan bisa dilestarikan agar tidak rusak.
Sebab pada akhirnya, masjid yang hidup bukan hanya yang ramai oleh manusia di dalamnya, tetapi juga yang membuat lingkungan di sekelilingnya tetap sehat, bersih, hijau, dan memberi kehidupan.
