Oleh: Ariyanto
Islam Hijau – Di sawah yang mulai menguning, kegelisahan petani tumbuh bersama bulir-bulir padi yang menunduk.
Tikus kembali datang.
Bagi petani, tikus bukan sekadar hewan kecil yang berlari di pematang. Ia bisa berarti berkurangnya hasil panen, bertambahnya biaya produksi, dan hilangnya harapan yang selama berbulan-bulan dirawat dari benih hingga menjelang panen.
“Sekarang tikusnya beda,” ujar seorang petani sambil memandangi tanaman padi.
Dulu, katanya, cukup dengan mengalirkan air ke lubang persembunyian, tikus akan keluar. Plastik yang dipasang mengelilingi sawah juga cukup membuatnya berbalik arah. Suara dan kehadiran manusia membuatnya tunggang-langgang.
Kini tidak lagi.
Plastik dijebol. Air tidak terlalu ditakuti. Kehadiran manusia pun seperti tak banyak berpengaruh. Bahkan ketika padi hampir matang, tanaman justru dirusak dan digigit pada bagian yang paling berharga bagi petani.
Petani itu tertawa kecil, meski getir.
“Mungkin tikusnya sudah sekolah. Punya ilmu.”
Kalimat itu terdengar seperti gurauan. Namun di baliknya ada kenyataan ekologis yang patut direnungkan.
Hewan, seperti manusia, terus belajar beradaptasi dengan lingkungannya.
Ketika pola pengendalian berubah, perilaku mereka dapat berubah. Ketika lingkungan berubah, mereka mencari cara baru untuk bertahan hidup.
Tikus tidak sedang menjadi lebih jahat.
Ia sedang beradaptasi.
Dan di situlah persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar perang antara petani dan hama.
Sawah adalah sebuah ekosistem. Di dalamnya hidup padi, tikus, serangga, burung, ular, katak, mikroorganisme, air dan tanah. Masing-masing memiliki hubungan dalam sebuah rantai kehidupan.
Ketika salah satu mata rantai terganggu, keseimbangannya dapat berubah.
Karena itu, mengendalikan tikus tidak cukup hanya dengan membunuh sebanyak-banyaknya. Yang diperlukan adalah pengelolaan hama yang bijak, terukur, dan memperhatikan keseimbangan ekosistem.
Petani sebenarnya telah lama memiliki pengetahuan ekologis semacam itu. Mereka membaca jejak, mengenali musim, memahami perilaku hewan, memperhatikan kondisi air dan tanah. Pengetahuan tersebut tumbuh dari pengalaman panjang hidup bersama alam.
Tetapi tekanan terhadap produksi pangan membuat persoalan semakin rumit.
Ketika tikus menyerang, petani harus mengeluarkan biaya tambahan. Bahan bakar, tenaga, waktu, bahkan risiko keselamatan harus ditanggung demi menyelamatkan tanaman yang tinggal menunggu panen.
Di sebuah sawah yang luasnya tak sampai setengah hektare, misalnya, petani akhirnya memilih memasang setrum di sekeliling lahan. Biaya bahan bakar diesel ikut meningkat. Namun dalam satu malam, sekitar 40 ekor tikus terperangkap.
Hasilnya mengejutkan.
Sekaligus menyisakan pertanyaan.
Apakah setiap persoalan ekologis harus diselesaikan dengan pertarungan?
Atau kita perlu memahami lebih jauh mengapa populasi hama meningkat dan bagaimana keseimbangan ekosistem sawah dapat dipulihkan?
Di sinilah konservasi bertemu dengan pertanian.
Konservasi bukan berarti membiarkan hama merusak tanaman petani. Sebaliknya, konservasi mengajarkan bahwa manusia perlu mencari cara mengelola kehidupan tanpa menciptakan kerusakan baru.
Menjaga predator alami, misalnya, dapat menjadi bagian dari pengendalian hama. Burung pemangsa, ular dan satwa lain memiliki peran dalam menjaga keseimbangan populasi tikus. Karena itu, keberadaan mereka di sekitar persawahan semestinya tidak selalu dilihat sebagai ancaman.
Alam sebenarnya telah memiliki mekanismenya sendiri.
Tugas manusia bukan menggantikannya dengan kekerasan, melainkan memahami cara kerjanya.
Dari sawah, kita kemudian belajar sesuatu yang lebih luas.
Petani sering menggunakan istilah “tikus” untuk menyebut sesuatu yang merusak. Di warung kopi, istilah itu kadang berubah menjadi metafora tentang manusia yang rakus: tikus berdasi yang bekerja bukan di lumpur, melainkan di ruang-ruang berpendingin.
“Yang satu merusak padi, yang satu merusak negara,” celetuk seseorang.
Perbandingan itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi ia menyimpan refleksi penting tentang kerakusan.
Di alam, tikus hanya mencari makan dan bertahan hidup.
Manusia memiliki pilihan.
Karena manusia memiliki akal, nurani, dan tanggung jawab moral.
Itulah yang membuat persoalan lingkungan pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi, melainkan persoalan karakter.
Sebuah sawah dapat dijaga dengan plastik, perangkap, pagar, atau teknologi. Tetapi yang membuat manusia terus merawatnya adalah rasa memiliki.
Sense of crisis membuat kita sadar bahwa ada sesuatu yang sedang terancam.
Sense of belonging membuat kita merasa bahwa yang terancam itu adalah milik kita bersama.
Ketika petani merasa sawahnya adalah bagian dari hidupnya, ia akan mencari cara untuk melindunginya.
Ketika masyarakat merasa sungai adalah milik bersama, mereka tidak akan mudah membuang sampah ke dalamnya.
Ketika sebuah bangsa merasa hutan adalah warisan bersama, ia tidak akan rela hutan habis hanya demi keuntungan sesaat.
Dan ketika manusia menyadari bahwa bumi bukan sekadar tempat tinggal, melainkan amanah Allah, maka merawat alam menjadi lebih dari sekadar pekerjaan.
Ia menjadi tanggung jawab.
Barangkali itulah pelajaran paling sederhana dari sawah yang mulai menguning.
Yang menjaga kehidupan bukan hanya perangkap, pagar, teknologi atau alat pengendali hama.
Ada sesuatu yang lebih mendasar:
hati yang merasa memiliki.
Sebab ketika manusia kehilangan rasa memiliki terhadap bumi, alam akan diperlakukan seperti barang yang bisa diambil sesuka hati.
Sebaliknya, ketika rasa memiliki tumbuh, kreativitas muncul, pengetahuan dihargai, inovasi berkembang, dan keberanian tumbuh untuk menjaga keseimbangan.
Sawah akhirnya tidak hanya mengajarkan bagaimana menanam dan memanen.
Ia mengajarkan cara menjadi manusia.
Bahwa kehidupan harus dijaga dengan pengetahuan, keseimbangan dan kasih sayang.
Sebab bumi bukan warisan untuk dihabiskan.
Ia adalah amanah untuk dirawat dan diwariskan.
