Oleh: Ariyanto
Islam Hijau – Tanah itu pernah retak seperti kulit tua.
Kemarau panjang menguras air waduk di sebuah desa di Gresik, Jawa Timur. Lumpur mengeras. Celah-celah tanah menjalar ke berbagai arah. Ikan mengambang sebelum akhirnya mati. Kepiting kehilangan kubangannya. Burung-burung yang biasanya mencari makan di tepian waduk menghilang.
Waduk menjadi sunyi.
Kemudian, suatu hari, gerimis turun.
Tidak lama. Tidak pula deras. Hanya air yang jatuh sebentar dari langit. Tetapi setelah itu, sesuatu berubah.
Tanah yang semula keras mulai basah. Warna cokelat kusam perlahan berganti hijau. Rerumputan tumbuh di sela-sela retakan. Dan burung-burung kembali terdengar.
Seolah-olah alam hanya sedang menunggu satu hal: air.
Peristiwa kecil itu menunjukkan betapa tipis batas antara kematian dan kehidupan di alam. Air menjadi pemicu sebuah rantai panjang: tanah yang basah memberi kesempatan bagi tumbuhan untuk tumbuh; tumbuhan menyediakan makanan dan tempat berlindung; serangga datang; burung mengikuti. Kehidupan bergerak kembali.
Al-Quran menyebut air sebagai sesuatu yang membawa keberkahan.
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ
“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen.”
QS. Qaf: 9
Hujan, dengan demikian, bukan sekadar fenomena cuaca. Ia bagian dari siklus kehidupan yang memungkinkan bumi terus bekerja. Air meresap ke tanah, mengisi sungai dan waduk, memberi minum tumbuhan dan satwa, lalu kembali ke atmosfer untuk mengulang perjalanan yang sama.
Di waduk Gresik itu, gerimis singkat memperlihatkan kembali sesuatu yang sering dilupakan manusia: alam mempunyai kemampuan untuk pulih.
Tetapi kemampuan itu tidak tak terbatas.
Jika air terus dieksploitasi, lahan terus ditutup, dan habitat terus dirusak, satu kali hujan mungkin tak cukup untuk mengembalikan semuanya. Karena itu, menjaga air pada akhirnya bukan hanya soal menyelamatkan waduk. Ia berarti menjaga kehidupan yang bergantung padanya.
Tanah retak itu akhirnya menjadi sebuah pengingat.
Bahwa kehidupan bisa begitu rapuh.
Namun sekaligus begitu tangguh.
Kadang ia hanya membutuhkan beberapa tetes air untuk memulai kembali.
Dan mungkin, di situlah kita memahami makna rahmat: sesuatu yang tampak kecil, tetapi sanggup menghidupkan kembali yang hampir mati.
