Gagasan Ziarah Hijau: Mengunjungi Makam Ulama, Menjaga Bumi

Mari jadikan setiap perjalanan ziarah sebagai kesempatan untuk merawat dua amanah sekaligus, yakni hati yang lebih dekat kepada Allah, dan bumi yang lebih lestari.

Admin
4 Min Read
Ilustrasi Dok/Pexels

Oleh: Feby Ferdian

Islam Hijau – Perjalanan ziarah boleh jadi akan semakin indah jika tidak hanya menenangkan hati, tetapi juga meninggalkan jejak kebaikan bagi alam.

Kalau biasanya ziarah ke makam ulama atau situs sejarah Islam diisi dengan doa, dzikir, dan renungan, melalui gagasan ini umat juga berkesempatan untuk ikut membersihkan lingkungan sekitar makam atau situs, atau bahkan menanam pohon sebagai bentuk sedekah jariyah yang hidup.

Gagasan ini bernama Ziarah Hijau, di mana perjalanan yang semula bersifat spiritual murni, kini berubah menjadi aksi nyata menjaga bumi.

Membaca Makna Ziarah dalam Bingkai Kepedulian Lingkungan

Ziarah dalam tradisi Islam memiliki tujuan mulia, yakni mengingatkan diri akan kematian, meneladani kesalehan ulama, dan memohon keberkahan. Namun Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa manusia dilarang membuat kerusakan di muka bumi (QS. Al-A’raf: 56). Maka, mengunjungi tempat mulia sambil merusak atau membiarkan lingkungannya kotor jelas bertentangan dengan semangat ajaran Islam.

Ziarah Hijau menjawab ketegangan ini. Ia mengajak peziarah untuk membersihkan area makam atau situs dari sampah plastik dan limbah, menanam pohon di sekitar kawasan sebagai bentuk penghijauan dan sedekah jariyah, membawa bekal sendiri dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai selama perjalanan, mengedukasi sesama peziarah tentang pentingnya menjaga kebersihan tempat yang dikunjungi.

Beberapa komunitas dan organisasi Islam di Indonesia sudah mulai mempraktikkan model ini. Ada yang menggabungkan ziarah ke makam ulama dengan aksi tanam pohon sistem pola asuh. Ada pula yang menjadikan area sekitar situs sejarah Islam sebagai kawasan hijau edukatif. Hasilnya, tempat yang dikunjungi tidak hanya bersih secara spiritual, tetapi juga semakin asri dan lestari.

Landasan Syariat: Sedekah Jariyah yang Terus Tumbuh

Dalam sebuah hadis yang sangat dikenal, Rasulullah SAW bersabda bahwa di antara amal yang pahalanya terus mengalir setelah seseorang meninggal adalah sedekah jariyah. Menanam pohon termasuk sedekah jariyah yang paling nyata, selama pohon itu hidup, menghasilkan oksigen, menahan erosi, dan memberi manfaat, pahalanya terus ditulis.

Ziarah Hijau menggabungkan dua amal sekaligus, yaitu ziarah yang menghidupkan hati, dan menanam yang menghidupkan bumi. Keduanya berjalan beriringan. Doa yang dipanjatkan di sisi makam ulama menjadi lebih utuh ketika disertai tindakan menjaga ciptaan Allah di sekitarnya.

Selain itu, prinsip thaharah (kesucian) dalam Islam tidak hanya berlaku pada badan dan pakaian. Lingkungan yang kotor dan penuh sampah jelas bertentangan dengan semangat kesucian tersebut. Membersihkan area ziarah adalah bagian dari menjaga kesucian tempat yang dimuliakan.

Yang pasti,  Ziarah Hijau bukan berarti mengurangi nilai spiritual perjalanan. Justru sebaliknya, ia menyempurnakan ziarah dengan tanggung jawab sebagai khalifah. Setiap langkah kaki menuju makam ulama bisa menjadi langkah yang juga merawat bumi.

Ketika peziarah datang tidak hanya dengan doa, tetapi juga dengan tangan yang menanam dan membersihkan, maka yang tersisa setelah mereka pulang bukan hanya jejak kaki, melainkan pohon yang tumbuh dan lingkungan yang lebih bersih.

Inilah wajah green tourism dalam perspektif Islam, sebuah perjalanan yang menyejukkan jiwa, sekaligus meninggalkan bumi dalam kondisi yang lebih baik. Dari ziarah yang semula hanya untuk diri sendiri, kini hadir keberkahan yang dirasakan oleh alam dan generasi sesudahnya.

Mari jadikan setiap perjalanan ziarah sebagai kesempatan untuk merawat dua amanah sekaligus, yakni hati yang lebih dekat kepada Allah, dan bumi yang lebih lestari.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *