Sedekah yang Terus Bertumbuh

Admin
7 Min Read

Oleh: Ariyanto

Islam Hijau – Ada sedekah yang tidak berhenti pada tangan yang memberi. Ia terus mengalir setiap detik, bahkan ketika kita sedang tidur.

Salah satunya adalah sedekah melalui pohon.

Tanamlah satu pohon hari ini.

Dari batang yang tumbuh, dari daun yang meneduhkan, dari buah yang kelak dipetik, hingga udara yang dihasilkannya—semuanya dapat menjadi bagian dari kebaikan yang terus mengalir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«ما مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أوْ إنْسَانٌ أوْ بَهِيمَةٌ، إلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ»

“Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menanam tanaman, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberikan pandangan yang sangat luas tentang makna sedekah. Sedekah tidak selalu berbentuk uang yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Kebaikan juga dapat hadir melalui sesuatu yang ditanam, dirawat, lalu memberikan manfaat kepada makhluk lain.

Imam An-Nawawi: Kebaikan yang Dinikmati Makhluk

Imam An-Nawawi, ketika menjelaskan hadis tersebut, menerangkan bahwa apa yang dimakan atau dimanfaatkan manusia, burung, maupun hewan dari tanaman yang ditanam seorang Muslim menjadi sedekah bagi penanamnya.

Maknanya sederhana tetapi dalam: manfaat yang lahir dari suatu kebaikan tetap bernilai di sisi Allah, bahkan ketika penerimanya bukan manusia.

Seekor burung yang hinggap di pohon.

Hewan yang berteduh di bawahnya.

Manusia yang menikmati buahnya.

Semua berada dalam lingkaran manfaat yang dapat menjadi pahala bagi orang yang menanamnya.

Di sini, sedekah melampaui batas-batas sosial manusia. Ia memasuki ruang kehidupan yang lebih luas.

Ibnu Hajar: Selama Manfaatnya Ada, Pahalanya Mengalir

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan keutamaan menanam dan bercocok tanam karena manfaatnya dapat dinikmati oleh berbagai makhluk.

Pohon tidak mengenal siapa yang datang kepadanya.

Ia tidak bertanya apakah yang berteduh seorang Muslim atau bukan.

Ia tidak memilih apakah burung yang memakan buahnya baik atau buruk.

Ia memberi.

Terus memberi.

Karena itu, pohon menjadi salah satu gambaran indah tentang sedekah yang tidak diskriminatif.

Ia memberikan manfaat tanpa menunggu balasan.

Tafsir Ibnu Katsir: Manusia sebagai Khalifah

Semangat ini juga sejalan dengan penjelasan para mufasir terhadap firman Allah:

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya.”

(QS. Hud: 61)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa manusia diperintahkan untuk memakmurkan bumi.

Memakmurkan bukan berarti mengeksploitasi tanpa batas.

Memakmurkan berarti menjadikan bumi tempat kehidupan yang baik: ditanami, dirawat, dijaga dan dimanfaatkan dengan benar.

Maka menanam pohon sesungguhnya bukan hanya aktivitas ekologis.

Ia dapat menjadi bagian dari tugas kekhalifahan manusia.

Tafsir As-Sa’di: Jangan Membuat Kerusakan

Dalam menafsirkan firman Allah:

وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

“Dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan membuat kerusakan.”

(QS. Al-Baqarah: 60)

Syekh Abdurrahman As-Sa’di menekankan larangan melakukan berbagai bentuk kerusakan yang menghilangkan kemaslahatan dan mendatangkan mudarat.

Karena itu, menjaga lingkungan bukan sesuatu yang berada di luar ajaran Islam.

Menanam adalah salah satu bentuk menghadirkan kemaslahatan.

Merawat adalah menjaga amanah.

Sedangkan merusak alam tanpa alasan yang benar bertentangan dengan prinsip menjaga kemaslahatan kehidupan.

Imam Al-Ghazali: Alam sebagai Jalan Mengenal Allah

Dalam pandangan sufistik Imam Al-Ghazali, alam bukan sekadar benda mati yang dapat dimanfaatkan manusia. Alam merupakan tanda-tanda kebesaran Allah yang mengantarkan manusia untuk mengenal Sang Pencipta.

Pohon, misalnya, tidak sekadar batang dan daun.

Ia adalah ayat yang hidup.

Akar mengambil air dari tanah.

Daun menangkap cahaya.

Pohon tumbuh perlahan.

Buah muncul pada waktunya.

Dan manusia menerima manfaatnya tanpa harus memahami seluruh rahasia yang bekerja di baliknya.

Ketika seseorang menanam pohon dengan kesadaran bahwa ia sedang merawat ciptaan Allah, aktivitas sederhana itu berubah menjadi latihan spiritual.

Ia belajar memberi tanpa meminta.

Ia belajar menunggu tanpa tergesa.

Ia belajar bahwa kehidupan bukan hanya tentang mengambil, tetapi juga menumbuhkan.

Sedekah Oksigen

Karena itu, pohon dapat menjadi metafora yang indah tentang sedekah yang terus bertumbuh.

Kita menanamnya sekali.

Tetapi manfaatnya dapat berlangsung bertahun-tahun.

Kita mungkin tidak mengenal semua orang yang menikmati keteduhannya.

Kita mungkin tidak pernah tahu burung mana yang menjadikan dahannya tempat singgah.

Kita mungkin tidak pernah bertemu manusia yang menghirup udara di sekitarnya.

Namun kebaikan itu tetap berlangsung.

Inilah yang dapat disebut sebagai sedekah oksigen: sebuah ungkapan untuk menggambarkan manfaat ekologis pohon yang terus diberikan kepada kehidupan.

Ia bekerja dalam diam.

Tidak ada suara kotak amal.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada nama yang diumumkan.

Hanya pohon yang terus tumbuh.

Dan kehidupan yang terus menerima manfaatnya.

Sedekah yang Tidak Mengenal Batas

Islam mengajarkan bahwa rahmat tidak berhenti pada sesama manusia.

Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

(QS. Al-Anbiya: 107)

Seluruh alam—al-’alamin—mengisyaratkan keluasan rahmat tersebut.

Karena itu, seorang Muslim tidak hanya bertanya:

“Berapa banyak yang telah saya miliki?”

Tetapi juga:

“Berapa banyak kehidupan yang memperoleh manfaat dari keberadaan saya?”

Satu pohon dapat menjadi jawaban kecil atas pertanyaan itu.

Ia tumbuh untuk manusia.

Ia tumbuh untuk burung.

Ia tumbuh untuk serangga.

Ia tumbuh untuk tanah.

Ia tumbuh untuk udara.

Ia tumbuh sebagai bagian dari ekosistem yang Allah ciptakan.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, ia juga sedang menumbuhkan sesuatu di dalam diri kita: rasa syukur.

Inilah sedekah yang tumbuh.

Sedekah yang berbuah.

Sedekah yang memberi teduh.

Sedekah yang memberi kehidupan.

Sedekah yang manfaatnya dapat terus berjalan ketika tangan kita telah berhenti menanam.

Dan semuanya dimulai dari satu langkah kecil:

menanam.

Satu bibit.

Satu pohon.

Satu niat.

Sebab bisa jadi, pohon yang kita tanam hari ini bukan hanya sedang tumbuh menuju langit.

Ia sedang tumbuh menjadi saksi kebaikan kita di hadapan Allah.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *