Cerita kesepian, ongkos murah, dan cinta pada kota dari balik jendela transportasi publik.
Oleh: Ariyanto
Islam Hijau – “Anak-anak saya sudah punya rumah sendiri. Semuanya sudah mandiri. Sekarang saya tinggal sendirian.”
Seorang ibu berusia sekitar 50–60 tahun bercerita kepada teman duduknya di dalam JakLingko. Suaranya santai, sesekali diselingi tawa kecil. Di luar jendela, Jakarta bergerak seperti biasa: kendaraan merayap, orang-orang bergegas, dan lampu lalu lintas berganti warna.
“Kalau di rumah terus, sepi. Makanya saya jalan-jalan saja,” katanya.
Ibu itu hendak turun di Taman Menteng. Ia ingin duduk-duduk, menikmati udara terbuka, memandang pepohonan, atau sekadar melihat orang berlalu-lalang. Tak ada agenda penting. Tak ada janji dengan siapa pun. Hari itu, perjalanan adalah cara sederhana untuk mengusir kesepian.
Teman bicaranya mengangguk. Ia punya kebiasaan serupa. Cuma kadang ia ajak cucu.
Di kesempatan terpisah, saya juga pernah mendengar hal sama ketika naik Transjakarta. Para penumpang yang ingin membunuh sepi dengan keliling kota pakai transportasi publik.
“Sama, saya muter-muter saja pakai TransJakarta, keliling kota sampai sore,” tutur penumpang koridor Senen–Blok M itu kepada penumpang di sebelahnya yang cerita kalau dirinya suka menghabiskan waktu keliling Jakarta pakai Transjakarta. Koridor demi koridor dicoba satu per satu.
Di dalam bus yang melaju, dua ibu-ibu umur 50-an itu menemukan sesuatu yang barangkali tak tersedia di ruang keluarga mereka yang sunyi: teman berbincang, pemandangan yang berganti, dan perasaan bahwa dunia di luar rumah masih terbuka lebar.
Jakarta, pada jam-jam tertentu, memang bisa membuat orang ingin segera sampai ke tujuan. Tetapi bagi sebagian penumpangnya, kota ini justru menyenangkan ketika perjalanan tak perlu buru-buru diakhiri.
Ada orang yang naik transportasi publik untuk bekerja. Ada yang naik untuk menghemat uang. Ada pula yang naik karena tak ingin sendirian.
Di antara mereka, ada yang diam-diam sedang belajar mencintai kota dengan cara sederhana: duduk, menunggu, berpindah moda, lalu mendengarkan cerita orang lain.
Keliling Kota
Seorang pria asal Sulawesi punya urusan berbeda. Ia sedang berlibur di Jakarta dan penasaran dengan jaringan kereta rel listrik atau KRL.
Ia ingin mencoba blue line dan green line, menyusuri jalur-jalur yang selama ini hanya ia dengar dari cerita orang.
“Muter-muter saja, pengen tahu habis berapa kalau naik KRL.”
Ia pun mencoba perjalanan dari satu ujung ke ujung lain. Setelah turun, ia baru menyadari sesuatu yang membuatnya terkejut.
“Ternyata cuma bayar Rp3.500 keliling dari ujung ke ujung. Enak ya.”
Bagi orang yang sedang berwisata, transportasi publik menawarkan pengalaman berbeda dari perjalanan menggunakan kendaraan pribadi atau taksi.
Perjalanan bukan semata-mata soal berpindah tempat, melainkan kesempatan mengenali kota dari dekat. Stasiun demi stasiun menjadi semacam pintu masuk menuju kehidupan Jakarta yang berlapis-lapis.
Dari balik jendela kereta, gedung-gedung tinggi berdiri berdekatan dengan permukiman padat. Di peron, pekerja kantoran berbaur dengan mahasiswa, pedagang, wisatawan, dan orang-orang yang pulang ke rumah.
Mereka mungkin tak saling mengenal, tetapi untuk beberapa menit atau puluhan menit, mereka berbagi ruang yang sama.
Ada sensasi kecil ketika menyadari bahwa perjalanan jauh tidak selalu harus dibayar mahal. Tentu, ongkos bergantung pada rute dan moda yang digunakan.
Namun, bagi penumpang yang terbiasa mengeluarkan uang lebih banyak untuk kendaraan pribadi, pengalaman itu bisa terasa seperti penemuan baru.
Jakarta ternyata bisa dijelajahi tanpa harus selalu memegang kemudi.
Penduduk Lama, Pengalaman Baru
Ada pula warga asli Jakarta yang baru belakangan mengenal transportasi publik. Sepanjang hidupnya tinggal di ibu kota, ia nyaris tak pernah naik angkutan umum modern. Kendaraan pribadi sudah telanjur menjadi kebiasaan.
Sampai suatu hari, ia memutuskan mencoba MRT dan LRT.
“Nyoba aja. Ternyata enak, cepat, relatif murah, tidak capek dan tidak kena macet,” katanya.
Ia juga mencoba LRT yang melayani rute Velodrome–Manggarai. Baginya, pengalaman itu seperti menemukan sisi lain kota yang selama ini dihuni. Jakarta yang bertahun-tahun dikenalnya dari balik kemudi ternyata memiliki jalur perjalanan yang lebih praktis.
Ada sesuatu yang menarik dari pengakuan semacam ini. Orang yang lahir dan besar di Jakarta pun bisa menjadi pendatang di kotanya sendiri, terutama ketika perubahan cara bepergian berlangsung lebih cepat daripada perubahan kebiasaan.
Selama ini, kendaraan pribadi kerap dianggap sebagai lambang kebebasan. Kita bisa berangkat kapan saja, membawa barang sebanyak yang diperlukan, dan menentukan rute sendiri.
Tetapi kebebasan itu kadang dibayar dengan waktu yang habis di kemacetan, biaya bahan bakar, parkir, perawatan, dan tenaga yang terkuras.
Transportasi publik menawarkan kebebasan dalam bentuk lain. Kita tak perlu memegang kemudi. Waktu perjalanan bisa digunakan untuk membaca, mendengarkan musik, memeriksa pesan, memandang kota, atau sekadar membiarkan pikiran berkelana.
Yang semula dianggap merepotkan ternyata bisa menjadi ruang untuk beristirahat dari hiruk-pikuk kota.
Menjual Mobil, Membeli Udara Bersih
Cerita lain datang dari seorang aparatur sipil negara di sebuah dinas pariwisata Jakarta. Ia memutuskan menggunakan transportasi publik untuk hampir seluruh perjalanan hariannya.
Keputusan itu bukan sekadar soal menghemat pengeluaran, melainkan juga cara sederhana untuk ikut merawat lingkungan dan suka mendengar obrolan selama perjalanan dengan aneka tema random.
Ia menghitung ulang biaya hidupnya. Memiliki mobil dan sepeda motor ternyata membutuhkan ongkos yang tak sedikit: bahan bakar, pajak kendaraan, perawatan, hingga waktu yang habis di tengah kemacetan.
“Saya jual mobil dan motor, lalu sepenuhnya naik transportasi publik,” ujarnya.
Kini, ia tak lagi harus mengeluarkan uang untuk bahan bakar atau memikirkan biaya perawatan kendaraan. Ia juga tak perlu mengantre di pompa bensin. Pengeluarannya jauh berkurang.
“Pengeluaran saya jauh berkurang dan sebagian gaji saya berikan untuk orang tua saya,” katanya.
Namun, ada alasan lain yang membuatnya bertahan menggunakan bus dan kereta. Ia ingin ikut menjadikan langit Jakarta lebih biru.
Baginya, mengurangi emisi karbon tak harus selalu dimulai dengan kegiatan besar atau gerakan lingkungan yang rumit. Ia sadar, dirinya bukan tipe orang yang telaten menanam dan merawat pohon. Kesibukan sehari-hari juga membuat waktunya terbatas.
“Itu yang bisa saya lakukan untuk lingkungan. Kalau disuruh nanam dan merawat pohon, saya tidak telaten dan tidak ada waktu,” tuturnya.
Ia memilih cara yang lebih sesuai dengan kebiasaannya: meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi publik. Dengan begitu, ia berharap bisa ikut mengurangi emisi dari perjalanan sehari-hari.
Tentu, satu orang yang beralih moda tidak serta-merta membuat langit Jakarta biru. Dampaknya akan lebih terasa jika semakin banyak orang melakukan hal serupa, didukung angkutan umum yang terintegrasi, nyaman, terjangkau, dan menggunakan teknologi yang lebih bersih.
Tetapi, bukankah perubahan memang sering bermula dari keputusan kecil yang dilakukan berulang-ulang?
Ia mungkin tak menanam pohon dengan tangannya sendiri. Namun, setiap kali memilih naik bus atau kereta, ia sedang berusaha mengurangi ketergantungannya pada kendaraan pribadi.
Baginya, merawat lingkungan tak harus selalu berarti menggenggam cangkul atau menanam bibit di tanah. Kadang-kadang, ia sesederhana meninggalkan kunci mobil di rumah dan melangkah menuju halte.
Di dalam kendaraan umum, ia juga menemukan alasan lain untuk bertahan. Ia senang mendengarkan cerita orang-orang yang ditemuinya di jalan.
Ada pekerja yang sedang mengejar waktu, mahasiswa yang sibuk dengan telepon genggamnya, atau seorang ibu yang sengaja berkeliling kota agar tak kesepian di rumah.
Perjalanan membuatnya merasa menjadi bagian dari kehidupan kota sekaligus melakukan sesuatu, sekecil apa pun, untuk bumi.
Cinta yang Belum Merata
Ada alasan lain untuk mencintai transportasi publik: udara yang kita hirup bersama.
Ketika lebih banyak orang menggunakan bus dan kereta, kebutuhan membawa kendaraan pribadi ke jalan dapat berkurang. Jika didukung energi yang lebih bersih, layanan yang andal, serta perpindahan moda yang nyaman, transportasi publik berpotensi menekan emisi dan polusi udara per penumpang.
Langit biru bukan hasil dari satu keputusan besar. Ia lahir dari banyak keputusan kecil yang dilakukan bersama-sama: memilih naik bus, berjalan kaki menuju halte, berpindah ke kereta, atau meninggalkan kendaraan pribadi di rumah.
Namun, cinta terhadap transportasi publik di Jakarta memiliki satu catatan penting. Pengalaman yang menyenangkan itu belum tentu bisa dirasakan warga di kota-kota lain.
Jakarta memiliki jaringan yang semakin terintegrasi, mulai dari TransJakarta, JakLingko, MRT, LRT, hingga KRL. Integrasi rute, halte, stasiun, dan pembayaran membuat perjalanan antarmoda relatif lebih mudah.
Tarif yang terjangkau juga membantu menjadikan transportasi publik pilihan yang masuk akal bagi banyak orang.
Meski belum sempurna, Jakarta memperlihatkan bahwa transportasi publik dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar alternatif ketika kendaraan pribadi tak bisa digunakan.
Di banyak kota lain, persoalannya masih berbeda. Jaringan angkutan umum belum menjangkau seluruh kawasan permukiman. Jadwal belum selalu dapat diandalkan.
Perpindahan antarmoda bisa merepotkan, sementara perjalanan dari rumah ke halte atau stasiun kadang tak nyaman bagi pejalan kaki.
Dalam keadaan seperti itu, ajakan meninggalkan kendaraan pribadi mudah terdengar seperti tuntutan yang tidak adil.
Bagaimana orang diminta naik bus jika busnya jarang lewat? Bagaimana warga mau beralih ke kereta jika akses menuju stasiun membutuhkan kendaraan lain dengan biaya tambahan?
Membangun budaya transportasi publik tak cukup dengan mengampanyekan langit biru. Pemerintah perlu menyediakan layanan yang aman, terjangkau, teratur, terintegrasi, dan menjangkau tempat orang tinggal serta bekerja.
Warga tidak bisa diminta mencintai sesuatu yang belum benar-benar tersedia bagi mereka.
Jakarta, dengan segala kekurangannya, telah memberi contoh tentang kemungkinan itu. Ketika perjalanan dibuat nyaman dan ongkosnya masuk akal, transportasi publik dapat mengubah kebiasaan.
Orang yang semula naik karena terpaksa bisa bertahan karena merasa terbantu. Bahkan, sebagian mulai menikmati perjalanan itu sendiri.
Mendengarkan Kota yang Bergerak
Sore perlahan turun. Di taman, ibu yang tadi turun dari JakLingko mungkin sedang duduk menikmati pepohonan. Di jalur KRL, wisatawan asal Sulawesi menyimpan pengalaman tentang perjalanan panjang dengan ongkos yang tak disangka-sangka.
Sementara itu, pegawai negeri yang menjual mobil dan motornya mungkin sedang dalam perjalanan pulang, dengan sebagian penghasilannya kini dapat ia sisihkan untuk orang tua.
Mereka datang dengan alasan berbeda-beda. Seorang ibu ingin mengusir kesepian. Seorang pelancong ingin menjelajahi kota.
Warga Jakarta ingin mencoba pengalaman baru. Seorang pegawai ingin menghemat pengeluaran sekaligus mengurangi jejak karbonnya.
Mereka bertemu dalam satu ruang yang bergerak.
Di sana, kota tak hanya terlihat sebagai deretan gedung, jalan raya, dan pusat perbelanjaan. Kota hadir melalui suara pengumuman di stasiun, percakapan pendek ant penumpang, wajah lelah orang yang baru pulang bekerja, serta tawa kecil yang muncul di tengah perjalanan.
Transportasi publik memang membawa kita ke suatu tempat. Tetapi kadang-kadang, ia juga membawa kita lebih dekat kepada orang lain.
Kita belajar bahwa orang yang duduk di sebelah kita memiliki kehidupan yang tak kalah rumit, harapan yang tak kalah besar, dan kesepian yang mungkin tak jauh berbeda.
Kita juga belajar bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dengan tindakan heroik. Ia bisa dimulai dari keputusan sederhana untuk berbagi kendaraan dan ruang kota.
Barangkali itulah alasan paling manusiawi untuk mencintai transportasi publik. Bukan semata-mata karena tarifnya murah, perjalanan lebih cepat, atau langit menjadi lebih biru.
Melainkan karena di dalam bus dan kereta, kita kembali menyadari bahwa kota ini bukan hanya milik mereka yang memiliki kendaraan, tetapi milik semua orang yang bergerak di dalamnya.
Sebab, sesungguhnya, perjalanan yang baik bukan hanya perjalanan yang membawa kita sampai ke tujuan, melainkan perjalanan yang membuat kita lebih mengenal manusia, lebih menyayangi bumi, dan lebih merasa menjadi bagian dari sebuah kota.
Dan mungkin, langit biru Jakarta kelak tak hanya menjadi urusan pohon-pohon yang tumbuh di taman, tetapi juga hasil dari jutaan orang yang memilih bergerak bersama tanpa harus membawa kendaraan sendiri-sendiri.
