Oleh: Ariyanto
Islam Hijau – “Gurun Sahara dan Antartika tidak ada pohon. Dari mana manusia yang tinggal di sana mendapatkan oksigen?”
Pertanyaan itu seperti teka-teki yang muncul ketika kita memandang dua wajah Bumi yang bertolak belakang. Di Sahara, pasir membentang sejauh mata memandang, sementara matahari menggantung garang di langit.
Di Antartika, es menutupi daratan, angin dingin menyapu hamparan putih, dan pepohonan nyaris tak mungkin tumbuh. Namun, manusia yang berada di kedua tempat itu tetap bisa bernapas.
Jika pohon merupakan penghasil oksigen, bukankah manusia di sana seharusnya kesulitan bernapas?
Jawabannya membawa kita pada sebuah kenyataan yang kerap luput dari perhatian. Kehidupan tidak bergantung pada satu jenis makhluk, satu tempat, atau satu mekanisme. Alam bekerja sebagai suatu sistem yang saling terhubung, melampaui batas-batas yang biasa kita bayangkan.
Oksigen Bukan Monopoli Pohon
Di sekolah, kita belajar bahwa tumbuhan menghasilkan oksigen melalui fotosintesis. Dengan bantuan cahaya matahari, tumbuhan menggunakan air dan karbon dioksida untuk membentuk senyawa organik, sekaligus melepaskan oksigen. Pengetahuan ini benar, tetapi belum menggambarkan seluruh cerita.
Ada pabrik oksigen yang nyaris tak terlihat di lautan.
Namanya fitoplankton. Organisme mikroskopis ini melayang di perairan, memanfaatkan cahaya matahari untuk melakukan fotosintesis. Bersama alga dan sianobakteri, mereka berkontribusi besar terhadap produksi oksigen global.
NASA memperkirakan bahwa fitoplankton dan organisme fotosintetik laut menyumbang sekitar separuh produksi oksigen global. Angka ini merupakan perkiraan produksi bruto, bukan berarti separuh oksigen yang kita hirup dapat ditelusuri langsung ke laut. Sebagian besar oksigen yang dihasilkan melalui fotosintesis digunakan kembali oleh organisme dalam respirasi dan proses penguraian.
Kajian Fischer, Hemp, dan Johnson berjudul “Evolution of Oxygenic Photosynthesis”, yang diterbitkan dalam Annual Review of Earth and Planetary Sciences pada 2016, menjelaskan bagaimana fotosintesis penghasil oksigen mengubah sejarah Bumi. Jauh sebelum hutan memenuhi daratan, organisme fotosintetik telah memainkan peran penting dalam perubahan kimia atmosfer.
Dengan demikian, pohon bukan satu-satunya penghasil oksigen. Hutan, padang rumput, alga, fitoplankton, dan organisme fotosintetik lainnya merupakan bagian dari sistem yang menopang kehidupan.
Udara Tidak Mengenal Batas
Lalu, bagaimana oksigen sampai ke tempat-tempat yang hampir tidak memiliki pepohonan?
Jawabannya terdapat pada atmosfer. Udara terus bergerak melalui angin, turbulensi, dan sirkulasi global. Gas-gas di dalamnya bercampur sehingga oksigen yang dilepaskan melalui fotosintesis di suatu wilayah menjadi bagian dari atmosfer yang lebih luas.
Pada udara kering di permukaan laut, konsentrasi oksigen sekitar 20,95 persen. Nilainya relatif seragam di berbagai wilayah Bumi. Itulah sebabnya manusia di tengah Sahara atau di stasiun penelitian Antartika tetap dapat menghirup udara yang mengandung oksigen, meskipun lingkungan di sekitarnya sangat berbeda.
Atmosfer bukan sekadar ruang kosong di antara daratan dan langit. Ia merupakan bagian dari sistem planet yang memungkinkan kehidupan berlangsung.
Namun, keseimbangan itu tidak sesederhana pohon menghasilkan oksigen, lalu oksigen terkumpul tanpa batas. Tumbuhan juga bernapas. Hewan dan mikroorganisme menggunakan oksigen. Penguraian bahan organik pun mengonsumsi oksigen. Dalam jangka panjang, kadar oksigen atmosfer dipengaruhi oleh keseimbangan berbagai proses biologis dan geologis.
Sains membantu kita memahami mekanisme tersebut melalui pengamatan, pengukuran, eksperimen, dan penelitian. Ia mengajarkan bahwa suatu gejala alam hampir selalu memiliki hubungan dengan gejala lainnya.
Di balik satu tarikan napas, ada proses yang berlangsung di luar jangkauan indra manusia.
Ketika Sains Berhenti pada Bagaimana
Pengetahuan tentang fotosintesis dan atmosfer menjelaskan bagaimana manusia memperoleh oksigen. Tetapi bagi orang beriman, pengetahuan itu dapat membuka pertanyaan lain. Dari mana datangnya keteraturan yang memungkinkan kehidupan berlangsung?
Pertanyaan ini bukan untuk menggantikan sains dengan jawaban yang tidak dapat diuji secara ilmiah. Ia berada pada ranah perenungan filosofis dan teologis, ketika manusia mencoba memahami makna keberadaannya di tengah alam semesta.
Kita tidak menciptakan matahari, tetapi memanfaatkan cahayanya. Kita tidak merancang fitoplankton, tetapi kehidupan kita ikut ditopang oleh kerja organisme mikroskopis tersebut. Kita tidak mengatur sendiri sirkulasi atmosfer, tetapi bergantung pada udara yang terus bergerak dan bercampur.
Bahkan, kita tidak perlu mengingat cara bernapas agar paru-paru terus bekerja. Napas berlangsung tanpa perintah sadar pada setiap detiknya. Kita baru merasakan betapa berharganya ketika mengalami sesak, sakit, atau berada di lingkungan dengan kualitas udara yang buruk.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menganggap sesuatu yang tersedia terus-menerus sebagai sesuatu yang biasa. Udara terasa gratis karena tidak harus dibeli setiap kali menarik napas. Matahari terbit seolah-olah merupakan peristiwa rutin. Air mengalir dari keran seakan-akan tidak memiliki sejarah panjang dalam siklus alam.
Padahal, sesuatu yang terasa biasa belum tentu sederhana.
Allah dan Keteraturan Semesta
Dalam pandangan tauhid, alam semesta bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri tanpa Pencipta. Allah adalah Pencipta dan Pemelihara kehidupan. Keteraturan alam dapat menjadi tanda yang mengajak manusia mengenali kebesaran-Nya, merenungkan keterbatasan diri, dan memahami tanggung jawabnya sebagai penghuni Bumi.
Alquran dalam Surah Al-Anbiya ayat 30 menyebut bahwa dari air dijadikan segala sesuatu yang hidup. Ayat ini mengarahkan perhatian manusia kepada hubungan mendasar antara air dan kehidupan. Ia bukan uraian teknis mengenai fotosintesis, tetapi undangan untuk merenungkan betapa kehidupan bergantung pada kondisi-kondisi alam yang tidak dapat diabaikan.
Dalam Surah Al-Qamar ayat 49, Allah berfirman:
“Innā kulla syai’in khalaqnāhu biqadar.”
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”
Ayat tersebut mengingatkan manusia akan ukuran dan ketetapan dalam penciptaan. Dalam perenungan ekologis, ia dapat menjadi landasan untuk memahami pentingnya keteraturan dan batas.
Kehidupan berlangsung melalui hubungan yang rumit antara air, udara, cahaya, tanah, dan berbagai organisme. Mengganggu salah satu unsur dapat menimbulkan akibat pada unsur lainnya.
Sementara itu, Surah Ar-Rahman ayat 7–9 berbicara tentang mizan, keseimbangan, serta perintah agar manusia tidak melampaui batas dalam menegakkan timbangan.
Pesan itu relevan bagi manusia yang hidup di tengah krisis ekologis. Alam bukan sekadar persediaan bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan. Ia juga merupakan ruang kehidupan yang keseimbangannya perlu dijaga.
Bagi seorang Muslim, menyebut Allah sebagai pemberi kehidupan dan pemelihara alam semesta tidak berarti meniadakan penjelasan ilmiah. Justru penelitian tentang fotosintesis, atmosfer, dan ekosistem membantu kita memahami mekanisme alam dengan lebih baik. Penjelasan ilmiah menjawab bagaimana proses berlangsung. Iman memberi ruang bagi perenungan tentang Pencipta, tujuan hidup, dan tanggung jawab moral manusia.
Keduanya perlu ditempatkan secara jernih, tanpa memaksakan ayat suci menjadi rumus laboratorium atau menjadikan sains sebagai alat untuk meniadakan seluruh pertanyaan tentang makna.
Belajar dari Napas
Napas dapat menjadi jalan untuk mengenali keterbatasan diri. Manusia datang ke dunia tanpa membawa udara, lalu menjalani kehidupan dengan menerima sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat ia kuasai.
Setiap tarikan napas mengingatkan bahwa kehidupan bukan semata-mata hasil kehendak pribadi. Ada ketergantungan yang mendasar pada sesuatu di luar diri. Kesadaran itu dapat menumbuhkan syukur, bukan sebagai ucapan yang diulang tanpa makna, melainkan sebagai cara hidup yang lebih rendah hati.
Orang yang bersyukur atas udara semestinya juga peduli pada kualitasnya. Orang yang mengakui alam sebagai ciptaan Allah semestinya berhati-hati dalam memperlakukannya. Orang yang memahami bahwa kehidupan bergantung pada keseimbangan ekosistem semestinya tidak merusak hutan, mencemari laut, atau mengeksploitasi sumber daya secara berlebihan.
Di sinilah perenungan spiritual bertemu dengan tanggung jawab ekologis.
Kesalehan tidak cukup diukur dari seberapa sering seseorang menyebut nama Tuhan, tetapi juga dapat tecermin dalam cara ia memperlakukan makhluk dan lingkungan yang menopang kehidupan. Syukur atas nikmat udara menjadi kurang bermakna jika pada saat yang sama manusia dengan sengaja merusak sumber-sumber kehidupan.
Tentu, manusia tidak dituntut untuk menguasai seluruh rahasia alam sebelum mulai menjaganya. Pengetahuan kita selalu berkembang. Masih ada banyak hal yang belum dipahami sepenuhnya tentang interaksi atmosfer, lautan, organisme, dan iklim. Ketidaktahuan itu semestinya membuat manusia lebih berhati-hati, bukan semakin angkuh.
Tasawuf mengajarkan kerendahan hati di hadapan kebesaran Allah. Ekologi mengajarkan kerendahan hati di hadapan kompleksitas alam. Keduanya dapat bertemu dalam satu kesadaran bahwa manusia bukan pemilik mutlak kehidupan.
Sebelum napas menjadi kenangan
Kembali ke Sahara dan Antartika. Manusia dapat bernapas di sana bukan karena setiap tempat memiliki hutan, melainkan karena atmosfer Bumi mengandung oksigen yang dihasilkan dan dipertahankan melalui proses kehidupan yang panjang. Pohon berperan penting, tetapi bukan satu-satunya pelaku. Lautan, organisme mikroskopis, dan dinamika atmosfer turut membentuk sistem yang menopang kehidupan.
Sains menjelaskan proses tersebut. Iman mengajak manusia merenungkan maknanya. Keteraturan yang memungkinkan kehidupan berlangsung dapat menjadi jalan untuk mengenali kebesaran Allah dan mensyukuri nikmat-Nya.
Tetapi syukur tidak semestinya berhenti pada kekaguman. Ia perlu menjelma menjadi tanggung jawab untuk menjaga kehidupan yang telah dipercayakan kepada manusia.
Barangkali kita terlalu sibuk menghitung apa yang dapat dimiliki, sampai lupa pada sesuatu yang memungkinkan kita menikmati segala kepemilikan itu. Kita mengejar tanah, bangunan, kekayaan, dan kekuasaan, tetapi sering lupa bahwa semuanya kehilangan arti ketika napas berhenti.
Udara tidak meminta kita menjadi kaya sebelum dapat menghirupnya. Atmosfer tidak memilih manusia berdasarkan jabatan atau kedudukan. Kehidupan berlangsung melalui keterhubungan yang melampaui ukuran-ukuran sosial yang kita bangun sendiri.
Karena itu, sebelum napas menjadi kenangan, manusia perlu belajar melihat udara bukan sekadar sesuatu yang tersedia, melainkan nikmat yang mengandung amanah. Bumi bukan hanya tempat untuk ditinggali dan dimanfaatkan, melainkan rumah kehidupan yang harus dirawat.
Pada akhirnya, mungkin rahasia terbesar sebuah napas bukanlah bahwa manusia dapat hidup tanpa pohon di dekatnya.
Rahasia itu terletak pada betapa banyak proses yang bekerja bersama agar kehidupan tetap berlangsung, sementara manusia kerap lupa bahwa ia hanyalah bagian kecil dari semesta yang luas.
Dan ketika kita akhirnya menyadari bahwa bahkan untuk satu tarikan napas pun kita bergantung pada kehidupan yang begitu rumit, barangkali saat itulah syukur menemukan maknanya.
Bukan sekadar mengucapkan terima kasih kepada Allah, melainkan belajar menjaga dengan rendah hati segala kehidupan yang berada dalam pemeliharaan-Nya.
