Oleh: Ariyanto
Islam Hijau – Suatu pagi, barangkali kelak suara yang terdengar di jalan bukan lagi deru mesin bensin, melainkan desis ban yang bergesekan dengan aspal.
Seorang pengendara berhenti di persimpangan. Ia memutar gas. Motor melaju hampir tanpa suara. Di tepi jalan, seorang pejalan kaki hendak menyeberang. Ia menoleh ke kanan dan kiri, tetapi tidak mendengar apa-apa. Tiba-tiba motor sudah berada di dekatnya.
Di situlah masa depan transportasi menghadirkan paradoksnya sendiri: kendaraan menjadi lebih bersih dan lebih senyap, tetapi sekaligus membutuhkan cara baru agar manusia tetap saling mendengar.
Gagasan pemerintah mendorong masyarakat mengganti sepeda motor berbahan bakar minyak dengan motor listrik layak didukung. Apalagi jika dilakukan melalui skema tukar tambah, subsidi, insentif pajak, dan cicilan ringan.
Namun kebijakan ini akan jauh lebih menarik jika pemerintah berani menjadikannya program besar yang benar-benar terasa di kantong masyarakat.
Sebab orang tidak membeli kendaraan hanya dengan pertimbangan lingkungan. Ada uang sekolah anak, beli susu anak, cicilan rumah, kebutuhan dapur, biaya kesehatan, dan berbagai pengeluaran lain. Ketika daya beli melemah, lapangan pekerjaan tidak mudah didapat, dan pemutusan hubungan kerja masih terjadi di berbagai sektor, mengganti motor lama dengan kendaraan baru bukan keputusan sederhana.
Karena itu, tukar tambah menjadi kunci. Motor lama dihargai secara layak. Pemerintah menambahkan insentif. Pajak diperingan. Sisanya bisa dicicil dalam tenor panjang. Syukur-syukur tanpa bunga. Dengan skema seperti itu, motor listrik tidak terasa sebagai barang mewah, melainkan kendaraan rakyat generasi berikutnya.
Bagi masyarakat, ukuran keberhasilan motor listrik sesungguhnya sederhana: menguntungkan saat dibeli, hemat saat digunakan, mudah saat diisi, mudah saat diperbaiki, dan tidak mahal ketika rusak.
Jangan sampai pemerintah berhasil membuat harga motor listrik murah melalui subsidi, tetapi setelah motor berada di garasi, pemiliknya kebingungan mencari tempat mengisi baterai.
Kalau SPBU tersedia di mana-mana, fasilitas pengisian motor listrik juga seharusnya mudah ditemukan. Setiap SPBU yang ada sekarang secara bertahap perlu memiliki fasilitas pengisian kendaraan listrik.
Bahkan, jika memungkinkan, tersedia pula stasiun tukar baterai. Baterai kosong ditukar dengan baterai yang sudah terisi. Waktu yang dibutuhkan bisa jauh lebih singkat dibandingkan menunggu baterai penuh.
Yang dicari masyarakat sebenarnya sederhana: kepastian.
Ketika bepergian jauh, mereka tidak ingin terus-menerus menghitung sisa baterai. Mereka ingin tahu bahwa ketika daya hampir habis, tempat mengisi atau menukar baterai ada di depan.
Motor listrik juga harus mudah diperbaiki.
Jangan sampai ketika rusak, pemilik harus mencari bengkel khusus yang hanya tersedia di kota besar. Bengkel umum perlu diberi pelatihan agar mampu menangani kerusakan motor listrik.
Motor listrik harus bisa diservis dengan mudah, bukan menjadi kendaraan yang hanya bisa diperbaiki oleh bengkel resmi tertentu.
Onderdil pun harus tersedia dan harganya masuk akal. Kampas rem, ban, bearing, lampu, suspensi, komponen kelistrikan, dan berbagai suku cadang yang memiliki masa pakai harus tersedia di pasar.
Persoalan paling penting tentu baterai. Baterai adalah salah satu komponen utama sekaligus mahal pada kendaraan listrik. Masyarakat harus mendapatkan kepastian mengenai masa pakainya, garansi, harga penggantian, ketersediaan baterai, dan mekanisme daur ulang baterai bekas.
Jadi pemerintah jangan hanya membangun pasar motor listrik. Pemerintah harus membangun ekosistem motor listrik.
Jika semua itu tersedia, masyarakat tidak perlu terlalu lama dibujuk. Mereka akan berpindah dengan sendirinya.
Bukan Sekadar Motor Listrik
Secara operasional, motor listrik memang berpotensi lebih hemat. Ia tidak membutuhkan bensin dan memiliki lebih sedikit komponen bergerak sehingga kebutuhan perawatan rutin umumnya lebih rendah. Biaya energi per kilometer juga dapat jauh di bawah motor bensin, meskipun hasil akhirnya bergantung pada jenis motor, efisiensi, tarif listrik, pola berkendara, dan biaya pengisian.
Tetapi jangan menjual motor listrik seolah-olah otomatis bebas karbon.
Motor listrik tidak mengeluarkan asap knalpot ketika berjalan. Polusi udara di jalan berkurang. Kebisingan kendaraan juga turun. Kota menjadi sedikit lebih tenang.
Tetapi listriknya tetap harus dibuat. Jika listrik untuk mengisi baterai masih banyak berasal dari batu bara, sebagian emisi hanya berpindah tempat dari knalpot di jalan menuju cerobong pembangkit.
Karena itu, motor listrik hanyalah separuh dari cerita. Separuh lainnya adalah dari mana listrik yang menggerakkannya berasal.
Di sinilah transisi kendaraan listrik harus ditempatkan dalam agenda yang lebih besar yaitu transisi energi hijau.
Indonesia tidak harus menunggu seluruh pembangkit batu bara berhenti beroperasi baru memulai elektrifikasi transportasi. Keduanya justru harus berjalan bersamaan.
Semakin banyak motor listrik digunakan, semakin bersih pula sumber listrik yang harus dibangun.
Matahari menjadi salah satu jawabannya. Panel surya dapat dipasang di atap rumah, gedung, kawasan industri, tempat parkir, bahkan di atas SPBU. SPBU masa depan bukan tidak mungkin berubah menjadi stasiun energi. Ada pengisian listrik, penukaran baterai, dan panel surya yang ikut menghasilkan energi.
Panas bumi adalah jawaban lain. Indonesia memiliki sumber panas bumi yang besar karena berada di kawasan Cincin Api. Energi ini menarik karena dapat menghasilkan listrik secara relatif stabil.
Tenaga air juga penting, baik melalui PLTA maupun pembangkit skala kecil. Begitu pula tenaga angin di wilayah yang memiliki potensi angin memadai.
Bioenergi dari limbah pertanian, perkebunan, dan bahan organik juga dapat berperan, selama pengelolaannya benar-benar berkelanjutan.
Dalam jangka panjang, energi nuklir juga dapat menjadi salah satu pilihan sumber listrik rendah karbon yang stabil, tentu dengan standar keselamatan, regulasi, dan pengelolaan limbah yang sangat ketat.
Jadi, transisi energi hijau bukan berarti mencari satu sumber energi untuk menggantikan batu bara. Ia adalah perubahan bauran energi: semakin banyak energi surya, panas bumi, air, angin, bioenergi, dan sumber rendah karbon lainnya, sementara ketergantungan terhadap batu bara secara bertahap dikurangi.
Dengan begitu, motor listrik yang hari ini masih mungkin menggunakan listrik dari pembangkit fosil dapat semakin lama semakin hijau.
Bayangkan sebuah motor listrik berhenti di sebuah SPBU. Pengendaranya mencolokkan kabel pengisian. Di atas kepalanya panel surya menangkap cahaya matahari. Listrik mengalir ke baterai. Energi yang tadi berasal dari matahari kini menggerakkan roda.
Di titik itu, transisi energi menjadi sesuatu yang bisa dirasakan sehari-hari, bukan sekadar istilah dalam dokumen pemerintah.
Ketika Karbon Memiliki Harga
Perubahan itu semakin penting karena dunia sedang bergerak menuju ekonomi yang memperhitungkan karbon.
Uni Eropa telah menerapkan sistem perdagangan emisi dan Carbon Border Adjustment Mechanism atau CBAM. Karbon perlahan tidak lagi dianggap gratis. Produk dengan jejak emisi tinggi akan menghadapi tekanan biaya yang semakin besar dalam perdagangan internasional.
Indonesia karena itu tidak cukup hanya menghasilkan barang murah. Kita harus mampu menghasilkan barang dengan jejak karbon yang semakin rendah.
Motor listrik adalah salah satu pintunya.
Tetapi ia hanya akan menjadi benar-benar hijau jika listrik yang menggerakkannya juga semakin hijau.
Energi dan Ketahanan Nasional
Ada alasan lain yang tak kalah penting yaitu ketahanan energi.
Krisis energi beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa minyak dan gas bukan hanya perkara ekonomi, tetapi juga geopolitik. Perang, gangguan jalur perdagangan, keputusan negara produsen, dan ketegangan antarnegara dapat membuat harga minyak bergerak liar.
Ketergantungan pada BBM fosil berarti sebagian mobilitas kita bergantung pada komoditas yang harganya banyak ditentukan oleh dunia.
Listrik memberi pilihan lain.
Indonesia memang masih menggunakan energi fosil untuk menghasilkan sebagian listriknya. Tetapi elektrifikasi transportasi memungkinkan sumber energi kendaraan menjadi lebih beragam.
Hari ini mungkin sebagian listrik berasal dari batu bara. Besok semakin banyak dari matahari. Kemudian panas bumi, air, angin, dan sumber rendah karbon lainnya mengambil porsi yang lebih besar.
Dengan kata lain, motor listrik bukan sekadar mengganti bensin dengan listrik. Ia membuka jalan untuk mengganti sistem energi yang bergantung pada fosil menuju sistem energi yang semakin beragam dan rendah karbon.
Jangan Lupakan Keselamatan
Tetapi pemerintah jangan terjebak pada urusan menjual motor listrik sementara tempat mengisinya tertinggal.
Kalau masyarakat diminta meninggalkan SPBU, jangan biarkan mereka kehilangan tempat untuk “mengisi bensin” versi baru.
Infrastruktur harus datang lebih dulu atau setidaknya tumbuh secepat pertumbuhan kendaraan listrik.
Ada persoalan lain yang tidak boleh dianggap kecil. Apa itu? Keselamatan!
Motor listrik memang lebih senyap. Ini keuntungan bagi lingkungan perkotaan yang selama puluhan tahun dijejali suara mesin. Tetapi kesenyapan itu dapat menjadi risiko bagi pejalan kaki, pesepeda, anak-anak, lansia, dan terutama penyandang gangguan penglihatan.
Pejalan kaki yang hendak menyeberang biasanya mengandalkan mata sekaligus telinga. Suara kendaraan menjadi salah satu tanda bahwa ada sesuatu yang sedang mendekat.
Karena itu, motor listrik perlu memiliki sistem peringatan suara yang tidak mengganggu, tetapi cukup terdengar pada kecepatan rendah. Bukan membuat motor listrik kembali bising seperti motor bensin, melainkan memberi sinyal kehadiran.
Soal kecepatan juga harus diperhatikan.
Jangan karena motor listrik mampu melaju cepat lalu jalan raya dianggap sirkuit.
Untuk penggunaan umum, batas maksimal sekitar 60 kilometer per jam lebih masuk akal sebagai pendekatan keselamatan dibandingkan 80 kilometer per jam. Di kawasan permukiman, sekolah, pasar, pusat kota, dan kawasan dengan banyak pejalan kaki, kecepatannya seharusnya jauh lebih rendah, sekitar 30–40 kilometer per jam.
Teknologi seharusnya tidak selalu digunakan untuk membuat manusia melaju lebih cepat. Kadang teknologi justru perlu membantu manusia mengerem.
Helm tetap wajib. Lampu dan rem harus memenuhi standar. Pengguna harus menghormati pejalan kaki. Dan kebiasaan kebut-kebutan harus ditinggalkan.
Sebab ukuran keberhasilan transisi kendaraan listrik bukan berapa juta motor yang berhasil terjual.
Ukuran keberhasilannya adalah apakah masyarakat bisa mengeluarkan uang lebih sedikit untuk bergerak, udara kota menjadi lebih bersih, ketergantungan terhadap BBM fosil berkurang, emisi karbon menurun, sumber energi semakin beragam, dan jalan menjadi lebih aman bagi manusia.
Motor listrik mestinya bukan hanya kendaraan yang tidak mengeluarkan asap.
Ia harus menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju ekonomi yang lebih rendah karbon dan sistem energi yang lebih tangguh.
Barangkali suatu hari nanti jalan-jalan kita akan menjadi lebih sunyi. Di atasnya motor listrik melintas, sementara listriknya perlahan datang dari matahari, air, panas bumi, angin, dan sumber energi bersih lainnya.
Tetapi jangan sampai kesunyian itu membuat kita lupa saling menjaga.
Sebab masa depan transportasi bukan sekadar tentang kendaraan yang bergerak tanpa asap dan suara. Ia adalah tentang bagaimana manusia belajar menjadi manusia, tetap humanis, bergerak lebih hemat, energi menjadi lebih bersih, dan pembangunan akhirnya berjalan lebih berdamai dengan bumi.
