Berkebun di Bawah JPO JIS

Admin
3 Min Read

Oleh: Ariyanto

Islam Hijau – Di bawah jembatan penyeberangan orang Jakarta International Stadium, ruang yang biasanya hanya dilewati kendaraan dan pejalan kaki itu berubah menjadi sebidang kebun.

Tanah disentuh cangkul. Bibit ditanam. Daun-daun hijau tumbuh di antara beton dan tiang-tiang jembatan.

Seorang petani bekerja di bawah bayang-bayang infrastruktur kota.

Pemandangan itu seperti potongan kecil dari dua dunia yang jarang dipertemukan: kota yang bergerak cepat dan tanah yang membutuhkan waktu untuk menumbuhkan sesuatu.

Bagi petani, menanam bukan sekadar pekerjaan. Sebatang pohon yang tumbuh kelak bisa menjadi peneduh, sumber pangan, tempat berlindung burung dan serangga, sekaligus pengikat air dan karbon.

Dalam ajaran Islam, manfaat itu mempunyai makna yang lebih panjang. Nabi Muhammad menyebut tanaman yang dimakan manusia atau hewan sebagai sedekah bagi orang yang menanamnya.

Pahala itu tidak berhenti ketika tangan berhenti mencangkul. Ia terus mengikuti manfaat yang dihasilkan tanaman.

Buah yang dimakan. Daun yang menaungi. Air yang lebih lama tersimpan di tanah. Udara yang lebih segar.

Semuanya menjadi bagian dari kehidupan yang saling terhubung.

Alquran bahkan menggambarkan seluruh makhluk sebagai bagian dari tasbih kepada Allah. Pohon tidak berbicara seperti manusia. Tetapi keberadaannya, pertumbuhannya, dan keteraturannya merupakan bagian dari ketundukan alam kepada Sang Pencipta.

Karena itu, sebuah kebun kecil di bawah JPO bukan semata-mata soal tanaman.

Ia juga tentang bagaimana ruang kota diperlakukan.

Beton boleh mendominasi Jakarta, tetapi tanah tidak harus sepenuhnya menyerah. Di sela-sela infrastruktur, masih mungkin disisakan ruang bagi akar, daun, burung, serangga, dan manusia.

Ada sebuah hadis yang kerap dikutip tentang pentingnya menanam:

“Jika Kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit tanaman, maka tanamlah.”

Hadis itu menyimpan pesan yang melampaui hasil panen.

Menanam adalah tindakan melawan kesia-siaan.

Ketika masa depan tampak tidak pasti, seseorang tetap menaruh benih ke tanah. Ia mungkin tidak menikmati buahnya. Tetapi seseorang setelahnya akan memetiknya.

Di bawah JPO JIS, cangkul kembali menghantam tanah.

Kota terus bergerak.

Kebun itu tumbuh perlahan.

Dan dari ruang yang nyaris tak diperhitungkan, seorang petani seperti sedang mengingatkan Jakarta: sebuah kota tidak hanya membutuhkan jalan untuk bergerak, tetapi juga tanah untuk menumbuhkan kehidupan.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *